Kamis, 21 Oktober 2010

BAHASA WALIK'AN MALANG

Warga Malang memiliki bahasa sendiri yang digunakan dalam lingkup yang lebih kecil, yakni bahasa "walikan" (kata yang dibaca terbalik) yang khas. Misalnya, kata "tidak" pengucapannya menjadi "kadit" atau bahkan nama kota "Malang" sendiri diucapkan menjadi "Ngalam".
Bahasa walikan Malangan itu tidak mudah dimengerti oleh orang dari luar Malang, bahkan orang asli Malang sendiri juga banyak yang tidak memahami bahasa "walikan" itu, sebab selain tidak jelas strukturnya juga jauh menyimpang dari kaidah Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia pada umumnya. Bahasa walikan khas Malangan tidak hanya sebatas Bahasa Jawa saja yang digunakan, namun juga Bahasa Indonesia seperti "tidak main" menjadi "kadit niam".
Bahasa Malangan ini juga tidak hanya sebatas dibalik-balik saja, tapi juga ada kata yang memang khas dan hanya dipahami oleh komunitas tertentu di Malang. Beberapa kata yang sama sekali bukan Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia yang dibalik di antaranya adalah "ojir" (uang), "idrek" (kerja), "ebes" (bapak/ayah), "memes" (ibu).
Bahasa walikan Malangan ini hanya digunakan oleh komunitas tertentu terutama para penggila bola (Aremania), percakapan anak-anak muda sehingga bisa dikatakan sebagai bahasa gaul. Berbeda dengan Bahasa Jawa dialek Malang yang digunakan menyeluruh oleh hampir semua lapisan masyarakat asli Malang.

TARI TOPENG MALANGAN

Tari Topeng Malangan yang sering kita dengar itu, ternyata hasil perpaduan antara kesenian Jawa Tengah, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing). Sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali.
Tarian ini sebagai tarian pembuka acara. Konon, tari topeng sendiri diperkirakan muncul pada awal abad 20-an dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Tari ini adalah perlambang bagi sifat manusia, karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya. Biasanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah-kisah panji.
Di Malang sendiri ada banyak, sentra tari topeng. Salah satunya di dusun kedungmonggo sanggar seni Asmoro Bangun Kecamatan Pakisaji kab. Malang, yang dipegang oleh keluarga Mbah Karimun (95), tapi berhubung Mbah Mun sudah sepuh dan sakit sakittan, kerajinan topeng diwariskan oleh istrinya Mbah Maryam dan cucunya. Sayangnya, faktor generasi penerus menjadi faktor utama untuk melestarikan kesenian khas Malang ini.menegakkan keeksisan tari topeng Malang lambat laun mendekati kepunahan.